\ ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan: Sarofah

PAB Online ALUS 2014-2015 RESMI DITUTUP!!

Penerimaan Anggota Baru Alus dimulai pada 20 Agustus 2014 Pukul 12.00 WIB - 31 Agustus 2014 Pukul 24.00 WIB

Pengolahan RFID di BPAD DIY

Alus Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan berpartisipasi dalam pengolahan koleksi perpustakaan untuk pemasangan RFID

Menyambut Hari Anak Nasional 2014

Dengan Membaca Anak Jogjakarta Kreatif dan Berkarakter untuk Indonesia Cerah

Pengolahan Perpustakaan Istana Negara Yogyakarta

Alus Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan berpartisipasi dalam pengolahan Perpustakaan Istana Negara Yogyakarta

Kontak Alus Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan

Kami siap membantu pemberdayaan perpustakaan antara lain pengolahan perpustakaan, pembinaan minat baca, dan kegiatan tentang perpustakaan dan informasi lainnya

Tampilkan postingan dengan label Sarofah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sarofah. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2011

Tips Menulis Resensi



Sering denger dan membaca resensi buku atau film??? tentunya pernah dunk, hari gini gak suka baca ???? bakalan jaduL dech jadi orang..heee.... baca kan gak kudu buku- buku yang berat banget bikin kepala cenat- cenut, bisa baca artikel di majalah, surat kabar, media online, bahkan baca pikiran orang..(huehue melatih six sense....). so niy aku punya goresan dikit mengenai resensi. Sebenarnya niy tulisan copy paste, tapi ada kesimpulan dari berbagai sumber yang aku baca, jadi bukan plagiat atau mencuri pengetahuan orang lain, lagian pengetahuan itu kan gak ada yang murni menurutku..hehm...ngomong apa sich...jadi ngelantur niy...dah...mulai yaak:......
>> Apakah itu resensi????
      Resensi termasuk salah satu tulisan opini di media massa. Jika dilihat dari segi isinya, resensi berbeda dengan tulisan lain di media massa, misalnya artikel. Resensi mengulas satu objek, yaitu hasil karya jadi dari seseorang atau sekelompok orang, (Sudaryanto,2008:8-9). Kata resensi berasal dari bahasa latin revidere berarti kembali, dan dalam bahasa inggris disebut review (Soewandi:1997:ix). Oleh karena itu resensi dapat dikatakan sebuah tulisan yang berisi tentang pendapat pembaca mengenai kelebihan dan kekurangan sebuah karya orang lain, berupa buku, film, dan lain sebagainya.


>> Apa tujuan resensi??
      Ada bebrapa tujuan seseorang meresensi buku, diantaranya:
  1. Untuk menarik minat baca. Kenapa bisa begitu? ya iyalah bisa soalnya dengan  adanya resensi yang dibaca seseorang mengenai buku tertentu, misalnya novel 3 menara (hehm..sebut merk), orang lain akan tertarik untuk membaca novel tersebut yang telah dikupas abis dalam resensi, mengenai isi novel, kelebihan, kekurangan, informasi bibliografisnya, bahkan harga.
  2. Resensi bisa dijadikan panduan untuk membeli buku. Dalam hal ini pembaca yang akan membeli buku mendapatkan informasi lengkap tentang sebuah buku, so dengan adanya resensi buku dapat menghemat waktu karena tidak harus membaca lebih dalam tentang buku yang akan dibelinya, cukup dengan membaca resensinya.
  3. Resensi dapat dijadikan pedoman untuk menilai suatu buku apakah layak dibaca atau tidak.
  4. Resensi sebagai promosi buku. Dengan adanya resensi maka penerbit buku bisa melakukan promosi kepada publik.


>> Unsur- Unsur Resensi Buku
Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam meresensi buku, antara lain:
  1. Identitas buku. Dalam dunia perpustakaan hal itu disebut data bibliografi, yang meliputi:Judul buku, pengarang, penerbit, kota terbit, tahun terbit, cetakan terbitan, tebal buku, ukuran buku, dan bisa ditambahkan cover buku.
  2. judul resensi, yaitu inti dari tulisan peresensi.
  3. gambaran umum isi buku.
  4. hasil analisis penulis, meliputi kekurangan, kelebihan, dan saran untuk pembaca.
  5. ciri bahasa yang digunakan penulis tergantung buku yang diresensi, apabila akademik ya gunakanlah bahasa akademis, atau ilmiah, atau reflektif.
  6. Manfaat yang akan diperoleh pembaca apabila membaca buku yang diresensinya. (Sudaryanto,2008:11-12)
>>So, Apa manfaatnya meresensi buku?
  1. Dapat mempublikasikan karya tulis kita di media massa.
  2. Mendapat buku dari penerbit, (seneng bukan?
  3. mendapat honor dari resensi yang berhasil dimuat di media mass
  4. melatih kita untuk menuangkan ide dan meningkatkan minat baca serta hobi

    Oleh: Sarofah
    *Sarofah Adalah Sekretaris Umum ALUS

Kamis, 01 Desember 2011

“Adil” Untuk Semua Dalam Mencerdaskan Umat (Artikel Perpustakaan)

“Bapak kalau saya pinjam buku tentang motivasi ini boleh ndak?”, Tanya seorang pengamen yang datang untuk mengamen di sebuah rumah sederhana itu kepada Pak Agung. Pada awalnya si lelaki setengah baya itu datang untuk menyumbangkan suaranya tetapi tanpa diduga tertarik dengan adanya buku- buku yang terpajang rapi pada rak ruang tamu bapak Agung Nugroho. Beliau adalah pemilik Taman Bacaan Masyarakat Pustaka Keliling “Adil”.

Pustaka Keliling “Adil” merupakan salah satu Taman Bacaan Masyarakat yang ada di Ledok Tukangan DN II/177 RT 05 RW 01 Yogyakarta kecamatan Danurejan. Pada awalnya berdiri sebagai perpustakaan pribadi dengan koleksi 200 eksemplar buku dan 50 eksemplar majalah . Atas rekomendasi Bapak Douzan Al Farouq alm., beliau adalah Pejuang Literasi Indonesia dan kehendak pemiliknya yang mempunyai cita- cita mencerdaskan umat setiap saat menuju masyarakat yang bermartabat maka pada tahun 2003 diubah menjadi sebuah Taman Bacaan Masyarakat yang dibuka untuk umum.

Semakin hari pengunjungpun semakin bertambah dari berbagai lapisan masyarakat disekitar Danurejan yaitu anak- anak, remaja, dan orang tua. Bahkan sampai sekarang banyak pengunjung yang berasal dari luar Danurejan. Mereka dapat menjadi anggota dengan mengisi kartu anggota yang telah disediakan. Bagi masyarakat wilayah Danurejan pesanan buku dapat diantar seperti memesan pizza, yaitu menghubungi lewat sms atau telepon. Seiring dengan bertambahnya pengunjung maka kebutuhan akan buku bacaanpun semakin banyak. Pada tahun 2009 “Adil” mendapat sumbangan sebesar 7 juta rupiah dari Pemda Yogyakarta. Dana tersebut digunakan untuk membeli 4 rak buku, 1 almari, dan koleksi yang sebagian besar berupa koleksi islam. “Adil” telah menjadi anggota forum Taman Bacaan Masyarakat Yogyakarta, sehingga memudahkan dalam publikasi. Pada bulan juli 2010 “Adil” mendapatkan dana pengembangan TBM dari Perpustakaan Kota Yogyakarta sebesar 3 juta rupiah. Kini TBM tersebut telah mempunyai koleksi sekitar 1000 judul buku dan lebih dari 350 eksemplar majalah. 

Beberapa hal yang menjadikan “Adil” selalu ramai oleh pengunjung yaitu adanya kegiatan pendamping yang dilaksanakan secara rutin dan berkala. Kegiatan tersebut meliputi: pembinaan Orang tua, anak- anak, dan kelompok Usaha Kecil, pelatihan Kerajinan, berbagai perlombaan anak, majalah dinding, dan menonton film bersama. Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan potensi yang mereka miliki sehingga masyarakat menjadi lebih baik. Selain kegiatan pendamping, “Adil” menarik pengunjung dengan cara meminjamkan buku- buku secara gratis Sehingga mereka bisa kapan saja datang meminjam atau pesan buku untuk diantar ke tempat tujuan tanpa mengganti uang bensin atau uang capek bahkan mulai bulan April 2011 kegiatan pustaka keliling semakin berkembang dengan adanya bantuan 2 motor keliling baru. Kegiatan yang dilaksanakan semakin beragam dan kerjasama dalam bidang pengelolaan koleksi dilakukan dengan Himpunan Mahasiswa Perpustakaan (ALUS-red). Begitulah kegiatan yang telah lama dilakukan untuk mencerdaskan umat. Yang menjadi prinsip hanyalah “banyak memberi daripada menerima”

Oleh: Sarofah
*Sarofah adalah Sekretaris Umum ALUS Periode 2011-2012 

Pentingnya Revitalisasi Pustakawan Provinsi DIY

Perpustakaan mempunyai peranan yang sangat penting yaitu sebagai tempat belajar bagi masyarakat dalam mengembangkan potensi mereka sehingga menjadi masyarakat berilmu dan mempunyai kecakapan untuk memberikan masukan- masukan dalam pengambilan kebijakan. Untuk dapat melaksanakan peran dan fungsinya diperlukan dukungan- dukungan dari berbagai pihak, hal ini sesuai undang- undang perpustakaan Nomor 43 tahun 2007 dalam pasal 8 poin a disebutkan bahwa Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/ kota berkewajiban untuk menjamin penyelenggaraan dan pengembangan perpustakaan di daerah.

Pemerintah provinsi DIY melalui Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah telah menyelenggarakan perpustakaan khusus dan perpustakaan umum untuk memenuhi kewajiban yang telah diamanatkan dalam undang- undang perpustakaan tersebut di atas. Tetapi dalam pelaksanaannya, perpustakaan yang mempunyai sub sistem di dalamnya yaitu pustakawan belum sepenuhnya melaksanakan kewajiban tersebut. Setiap perpustakaan seharusnya mempunyai pustakawan dalam melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan tetapi pada kenyataannya hal itu belum terwujud. 

Permasalahan yang sebenarnya yaitu terletak pada formasi pustakawan yang belum memenuhi formasi yang telah ditentukan di provinsi DIY. Kalau dilihat dari para pustakawan yang ada di provinsi DIY, maka mereka hanya terdapat di BPAD. Kemungkinan besar perpustakaan di lembaga dan perpustakaan umum lain masih banyak kekurangan pustakawan. Kemudian bahwa untuk menjalankan fungsinya suatu perpustakaan harus dikelola oleh tenaga perpustakaan yang ahli dalam bidangnya. Kenyataan yang ada adalah berbanding terbalik dengan pernyataan tersebut. Di perpustakaan- perpustakaan provinsi DIY kebanyakan pengelola perpustakaan adalah bukan seorang lulusan D2/ S1 ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi, atau mereka yang mendapat pendidikan formal tentang pengelolaan perpustakaan seperti pendidikan kilat pengelolaan perpustakaan. Kebanyakan dari mereka adalah pegawai mutasi yang tidak mempunyai keahlian dibidangnya. Sebagai contoh, di perpustakaan- perpustakaan sekolah pengelola perpustakaan biasanya adalah seorang guru yang diperbantukan untuk mengelola perpustakaan. Kadang pula adalah seorang pegawai administrasi atau TU ( Tata Usaha ). Selain di perpustakaan sekolah adalah di perpustakaan instansi seperti perpustakaan Rumah Sakit, perpustakaan Ban, dan sebagainya. 

Dengan melihat kondisi di atas yang menunjukkan adanya pustakawan atau pengelola perpustakaan di provinsi DIY yang masih terbatas, serta jumlah yang ada masih kurang memenuhi kualifikasi pendidikan yang disyaratkan dalam bidang perpustakaan maka akan mempengaruhi kualitas layanan perpustakaan. 

Dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut, perlu adanya revitalisasi pustakawan di provinsi DIY. Revitalisasi pustakawan dapat dilakukan melalui dua tahap, yaitu perencanaan formasi pegawai dan pengadaan pegawai. Perencanaan formasi untuk pustakawan dengan memperhatikan adanya peluang para calon pustakawan yang nantinya akan menggantikan posisi/ jabatan para pustakawan yang memasuki masa pensiun. Perencanaan formasi untuk pustakawan di setiap perpustakaan, baik perpustakaan instansi maupun perpustakaan umum. Kedua adalah tahap pengadaan pustakawan atau pengelola perpustakaan. Pengadaan pegawai dimaksudkan untuk mengisi lowongan. Posisi lowong tersebut bisa disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu kematian pegawai, pemecatan, pengunduran diri, dan pensiun. Meskipun demikian penyelenggara pengadaan pegawai juga harus memperhatikan aspek- aspek seperti aspek kebutuhan. Penyelenggara tidak boleh secara cuma- cuma menempatkan pegawai untuk mengisi posisi yang lowong tetapi tetap harus menguji kompetensi yang dimilikinya. 

Dengan diterapkannya kedua langkah tersebut diharapkan di perpustakaan provinsi DIY dapat terpenuhinya pegawai pada formasi perpustakaan serta dapat mennjaring kompetensi pustakawan sehingga akan menigkatkan pelayanan perpustakaan kepada masyarakat pengguna.

Oleh: Sarofah
*Sarofah adalah Sekretaris Umum ALUS Periode 2011-2012  

Menjadi Generasi Muda Ideal

Suatu keberuntungan bagi kita yang lahir pada zaman modern saat ini. Semua fasilitas yang dibutuhkan tersedia secara cepat dan mudah. Kita ingin menguasai bahasa asing, lembaga bahasa dan kursus bahasa asing ada dimana- mana, ingin pintar komputer lembaga kursus tersedia diberbagai tempat. Dengan modal kemauan kita bisa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi apapun yang diingikan.

Sayangnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terkadang tidak diimbangi dengan pemahaman ilmu agama secara benar. Banyak kaum muda yang jenius dibidang teknologi menjadi takabur atas kemampuan yang dimilikinya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga hidup mereka menjadi tidak terarah dan mengalami kehampaan spiritual. Apabila telah demikian maka pelariannya adalah minuman keras dan obat- obatan terlarang.

Ada dua anggapan tentang ilmu agama dan ilmu pengetahuan teknologi. Ada yang beranggapan bahwa ilmu agama lebih penting daripada ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mereka tenang- tenang saja walaupun ketinggalan pengetahuan umum dalam bidang teknologi karena ilmu seperti itu tidak akan menolong di akhirat nanti. Mereka tidak pernah memikirkan tentang teknologi, yang penting sholat, ngaji, dan tidak berbuat macam- macam. Anggapan kedua yaitu bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi lebih penting daripada ilmu agama. Buktinya banyak para orang tua yang bangga bila anaknya menjadi juara dalam bidang fisika, matematika, atau komputer daripada juara qiraah. Sepertinya lebih keren begitu.

Baik pandangan pertama maupun kedua tersebut adalah salah. Menjadi orang saleh yang paham agama itu perlu, sehingga hidup kita lebih terarah tetapi kalau kemudian kita tidak tahu apa- apa tentang iptek maka akan menjadi orang yang gaptek( gagap teknologi ) dan tidak tahu tentang perkembangan zaman. Begitu juga dengan orang- orang yang mahir dalam bidang teknologi tetapi buta agama, maka hidupnya tidak tenang dan cenderung menghalalkan segala cara untuk berinovasi. Maka sebaiknya kita menjadi kaum muda yang mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam bidang teknologi tetapi juga senantiasa belajar ilmu agama kemudian mengimplementasikannya dalam kehidupan kita untuk mengimbanginya sehingga iptek ok, imtak (ilmu, iman, taqwa) yes.

Oleh: Sarofah
*Sarofah adalah Sekretaris Umum ALUS Periode 2011-2012

Rabu, 30 November 2011

Menggagas Perpustakaan Digital Dalam Ranah Perguruan Tinggi (Public Discussion of ALUS)



Diskusi publik dengan judul Menggagas Perpustakaan Digital Dalam Ranah Perguruan Tinggi yang telah dilaksanakan pada hari Sabtu (28/05) ialah salah satu agenda kegiatan Divisi Pengembangan Profesi dengan narasumber Siti Nurkamila, S.IP, mahasiswi S2 pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Diskusi berlangsung selama 2 jam dengan pembahasan mengenai konsep, koleksi, dan software perpustakaan digital dalam ranah perguruan tinggi. Adapun yang tercakup dalam konsep yaitu pengertian dan ciri- ciri perpustakaan digital, sedangkan cakupan koleksi adalah koleksi dalam bentuk digital, seperti e-book, local content/ Institusional Repository. Dalam perkembangan perpustakaan digital kini muncul berbagai software, antara lain: Dspace, GDL, GSDL, dan Eprint. 

Diskusi tersebut bertujuan untuk merpererat persaudaraan antar anggota khususnya para anggota muda yang baru menjadi bagian dari ALUS. Sedangkan tujuan yang lain ialah untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang kepustakawanan. Dengan adanya kegiatan tersebut diharapkan dapat menambah pengetahuan kita.

Oleh: Sarofah
*Sarofah adalah Sekretaris Umum ALUS Periode 2011-2012