\ ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan: karya tulis anggota

PAB Online ALUS 2014-2015 RESMI DITUTUP!!

Penerimaan Anggota Baru Alus dimulai pada 20 Agustus 2014 Pukul 12.00 WIB - 31 Agustus 2014 Pukul 24.00 WIB

Pengolahan RFID di BPAD DIY

Alus Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan berpartisipasi dalam pengolahan koleksi perpustakaan untuk pemasangan RFID

Menyambut Hari Anak Nasional 2014

Dengan Membaca Anak Jogjakarta Kreatif dan Berkarakter untuk Indonesia Cerah

Pengolahan Perpustakaan Istana Negara Yogyakarta

Alus Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan berpartisipasi dalam pengolahan Perpustakaan Istana Negara Yogyakarta

Kontak Alus Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan

Kami siap membantu pemberdayaan perpustakaan antara lain pengolahan perpustakaan, pembinaan minat baca, dan kegiatan tentang perpustakaan dan informasi lainnya

Tampilkan postingan dengan label karya tulis anggota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karya tulis anggota. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 April 2013

Cerpen "Ketika Cinta Berkata lain"

Hello Kawan ALUS, gimana kabarnya? hehehe
pada kesempatan kali ini mimin akan share kiriman cerpen dari Sdr. Mukhlis udah mimin bikinin covernya juga lho siapa tau bakalan jadi best story, best seller :D
Dari Judulnya agak galau sih, baca aja deh nyampe selesai biar gak penasaran >_<'!
 

KCB 
(Ketika Cinta Berkata lain)

      Di pojok ruang baca skripsi, nampak beberapa mahasiswa sedang berdiskusi dengan serius, hal tersebut dilihat dari gerakan dan raut muka mereka. Nampaknya mereka membahas seuatu yang sangat serius, ketika asyik berdiskusi tiba-tiba mereka didatangi oleh pustakawan bagian referensi. “Maaf ya mas-mas, kegiatan berdiskusi di perpustakaan tidak dilarang, cuma suara kalian sedikit mengusik pemustaka lain yang sedang mengerjakan skripsi, jadi mohon sekiranya dimaklumi”, tegur petugas perpustakaan. 
      Jaka yang terkenal dengan julukan si kuping cabe seketika naik darah, doi langsung berdiri sambil garuk-garuk kepala.”Njeh pak ”, sahut Jaka dengan suaranya yang ngapak belepotan itu sambil tersenyum lebar. Gigi depannya yang berwarna kuning itu nongol menghiasi senyumnya yang penuh dengan kepalsuan.
      “Ah sialan, masak cuma ngobrol kayak begini doang langsung ditegur sih..., pliss dech”, gerutu Jaka sambil merapikan kembali rambutnya yang gak karuan itu. 
      “Yah..., namanya juga di perpustakaan kita harus punya etika dan kudu manut ama tata tertib bro, jawab Benny. “Tata tertib apaan”, gerutu Jaka gak terima nasihat dari Benny. “Maksudnya, perpustakaan itu tempat orang-orang menggali informasi dengan khusyuk, artinya khusyuk dalam menggali informasi itu butuh ketenangan biar bisa konsentrasi. Jadi perpustakaan itu bukan tempat transaksi jual beli kayak pasar hewan yang suara gaduhnya minta ampun”, sahut Donny meluruskan argument dari Benny. “Oke, kalau begitu, nanti sore pembicaraan ini kita lanjutkan di Kost Donny sambil menggarap tugas mata kuliah klasifikasi” sahut Jaka bersemangat. “Ok, roger that command” teriak mereka serentak. 
      Sore hari pas ngumpul bikin PR di kost Donny, mereka lalu menuntaskan pembicaraan yang tertunda di perpustakaan tadi siang, kemudian mereka melanjutkan pembuatan makalah mata kuliah klasifikasi. Ketika pembagian tugas selesai dibagi maka semuanya mulai bekerja mencari referensi yang dibutuhkan, baik dari buku, jurnal, kamus hingga sumber dari internet. Saat asyik mengerjakan tugas, seketika menyeruaklah tekad yang spektakuler dari mulut Jaka, “ Besok gue mao nembak Si Elish” 
      “Geplak,...” timpal Benny menyebut makanan favoritnya Donny yang lagi sibuk mencari nomor klasifikasi judul buku, tiba-tiba nyeletuk, “Aku salut ama ente Jek..!”, katanya terharu. Merasa di-support sama teman-temannya Jaka pun membeberkan rencana yang maha penting itu,”Besok Senin, ane mao nyatain cinta ane ke Elish. Pada misi khusus ini, ane minta bantuan arek-arek semuanya, ente-ente bersedia kan?”, jawab Jaka meyakinkan teman-temannya.“Demi Mas Jaka yang tersayang, sang penguasa kampus kami siap membantu, tapi misi ini ada reward-nya gak nih,hehehe”, sahut Benny “Nah setuju aku, kalo ada reward-nya, tapi klo gak ada gak mau aku”,sahut Jiko menambahkan. “Aku ngikut suara mayoritas,hehehe”, sahut Donny.
      Setelah diprovokasi bakal di traktir ama si Jaka, makan sekenyangnya di angkringan dekat rel kereta api, mereka pun sepakat. Demi sikap solidaritas, suara mayoritas dan rasa kasian, lalu mereka mendukung tekad si Jaka. Mereka akan memainkan peran untuk mendukung si Jaka saat bertemu dengan Elish di perpustakaan kampus. Setelah PR selesai, mereka melanjutkan pembuatan skenario peran saat bertemu dengan Elish di perpustakaan besok, setelah semuanya terkonsep dengan rapi, strategis, sistematis, persiapan yang matang dan mapan, lalu mereka bubar untuk menunggu saat-saat mendebarkan tiba. 
      Hari Senin yang mendebarkan pun kini telah tiba...! 
Setelah melakukan oservasi dan olah TKP, lalu diadakanlah latihan pra-acting selama 3 jam lamanya, akhirnya saat yang dinanti telah tiba. Dari depan pintu masuk perpustakaan, Benny stanby sambil BBM-an dengan Jaka. “On target, keep calm-down boy”, jawab Benny sambil mengelus Hp BlackBerry kesayangannya. Hal itu menandakan target sedang perjalanan menuju lokasi, Di ruang baca lantai 3, Donny, dan Jiko sudah siap-siap memainkan peran mereka, lalu si Jaka sudah duduk manis sambil pura-pura membaca sebuah buku ensiklopedi. Selang beberapa menit kemudian Elish pun datang sambil melirik-lirik mencari si Jaka, karena sebelumnya si Jaka telah mengirim pesan singkat (SMS) pada Elish. Lalu mereka pun bertemu dan memulai pembicaraan. 
     “Eh mas Jaka, gimana kabarnya.., tumben nih...?” sapa Elish ramah 
     “Ngg...mao..mo..ngobrol-ngobrol aja kok...”, ucap Jaka yang dengkulnya mulai gemeteran, jantungnya terasa empot-empotan. “Oh ya, ada hal apa nih”, jawab Elish penasaran. “Ehmm...jadi begini Ell, sebenarnya aku tuh...”, (tiba-tiba terdengar sebuah tanda peringatan dari bagian informasi perpustakaan). 
      “Selamat pagi, kepada pemustaka yang merasa pemilik motor dengan nomor plat AB7067A, harap segera memindahkan kendaraan anda ke tempat parkiran, karena menghalangi jalan, terima kasih “, ucap bagian informasi perpustakaan. Selang kemudian Donny menelpon si Jaka, “ Halo.., halo.., hey.. jangkrik.., motormu itu loh menghalangi jalan, masak parkir motor di depan pintu masuk perpustakaan, mobil kepala perpust gak bisa lewat tau, cepet turun, “teriak Donny dr telpon genggam Jaka. “Oh hiya to, sek yo..”, sahut Jaka sambil lari tunggang-langgang. Lalu Elish pun heran melihat tingkah si Jaka itu. 
      Melihat si Jaka lari tunggang-langgang, Donny dan Jiko ikutan lari menyusul. Melihat situasi seperti itu, secara tidak sengaja Elish melihat Donny dan Jiko berlari, lalu Elish pun teriak memanggil Donny. “Mas Donny, tunggu”, ucap Elish ikut meninggalkan ruang referensi. Setelah persoalan tersebut selesai, lalu si Jaka kembali menemui teman-temannya untuk meneruskan misi yang maha penting tesebut. Karena semuanya sudah terlanjur turun, maka mereka sepakat untuk ngobrol-ngobrol di taman yang sejuk dan asri yang berada di depan perpustakaan. Di awal pembicaraan, Elish memulai dengan pertanyaan seputar alasan Jaka memanggilnya ke perpustakaan, melihat situasi seperti itu wajah si Jaka pucat pasi kehabisan akal karena keadaan ini diluar skenario yang mereka rencanakan. 
      Dengan tanpa dosa, Benny langsung berargument “Sebenarnya ada seseorang yang ingin mengutarakan isi hatinya ke kamu lho Ell”, jawab Benny keceplosan...yang lain melototi Benny dengan sorotan tajam. “Oh yah..,”tutur Elish sambil tersenyum tersipu malu. Semuanya diam seratus kata, serasa leher kecekik nggak ada yang bisa ngomong lagi. “Ya.., sebenarnya aku juga lagi menaruh simpati sama salah seorang diantara kalian berempat”, sahut Elish dengan senyumnya yang manis itu. Kemudian Elish pamit pergi meninggalkan mereka berempat. Setelah mendengarkan tutur kata dari Elish tadi, mereka saling bertatapan dengan mulut menganga lebar. 
      “Ah, aku nggak ikut-ikutan, ntar pacarku marah lagi nanti”, timpal Jiko membela diri “Aku juga nggak ikut deh, aku gak mau nyari masalah ama cewek”, sahut Donny cuek bebek. “Oke Benn..,berarti sekarang kita saingan untuk nge-gebet si Elish”,sahut si Jaka bersemangat. “terserah elloohhhh”, sahut Benny agak kesel. Kemudian mereka bubar meninggalkan perpustakaan. Kemudian mereka menuju angkringan. Karena misi ini “gatal” (gagal total), maka traktiran pun terpaksa ikutan gagal, tapi mereka masih kompak ngangkring bareng dengan alasan mereka sepakat untuk bayar sendiri-sendiri, hehehe. 
      Setelah berminggu-minggu belum ada aksi, lalu si Jaka mengambil langkah awal dengan menamai gerakan tersebut dengan sebutan Gerakan Anak STMJ. Tapi kalau ditanya kepanjangan dari Anak STMJ itu?, si Jaka menjawab itu simbol persahabatan mereka yang cinta terhadap produk angkringan, padahal arti yang sebenarnya adalah Anak Semester Tujuh Masih Jomblo,hehe. ^_^. Kemudian agresi pertama pun dimulai, si Jaka dan Benny saingan berat, mulai dari pakian yang modis, model rambut yang macho sampai urusan tali sepatu pun mereka bersaing secara ketat. Donny dan Jiko ikut cekikikan melihat tingkah mereka. “Ah..dasar anak tuyul, gitu aja kok saingan”, gerutu Jiko sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. 
      Pada suatu saat, mereka kebagian tugas observasi dari dosen dengan model kelompok, Jaka, Jiko, dan Elish satu kelompok, sedang Donny satu kelompok dengan Benny dan seorang mahasiswi tingkat bawah yang kebetulan mengambil mata kuliah yang sama. Merasa tidak ada saingan, maka kesempatan berlian itu tidak disia-siakan oleh Jaka untuk mendapatkan simpati dari Elish, sedang Benny bertingkah gak karuan seolah tidak terima gak sekelompok dengan Elish. Melihat tingkah Benny yang gak tenang itu, lalu Donny menenangkan Benny. “ Eh Ben, gak segitunya kali..santai aja, klo emang cinta memahakmu dia tak akan kemana”, sahut Donny. Kemudian Benny menjawab lemes, “Ok, tapi kalo sampai Jaka berhasil jadian sama Elish..Lu orang yang pertama kali ane tuntut” hardik Benny. “ Iya-iya terserah, sudah kita fokos pada tugas kita dulu” jawab Donny yang sudah capek ngeliat tingkah Benny. 
      Setelah tugas tersebut selesai, Benny lekas menemui Jaka untuk memastikan apakah doi berhasil menggebet Elish. Selang kemudian Jaka ngomel, kalo selama ini usahanya sia-sia belaka untuk mendapatkan simpati Elish. Merasa usahanya tak membuahkan hasil, lalu si Jaka memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya dan akan merelakan isi dompetnya jika cintanya diterima oleh Elish si kembang kampus itu. Si Jaka hafal betul kebiasaan Elish yang selalu datang ke perpustakaan setiap hari Senin dan Kamis, begitu datang dan selalu duduk di kursi pojok ruang baca, di samping jendela yang menghadap ke lingkungan fakultas, karna gedung ini berada di lokasi paling timur dan di ujung. Maka kalau melihat ke luar jendela yang ada di pojok barat lantai dua itu, semua lingkungan fakultas sampai ke tempat parkiran kelihatan dengan jelas. Manusia berusaha, lalu tuhan yang menentukan, cinta yang tulus dari si Jaka mendapat penolakan secara terhormat dan elit dari Elish, hal ini bukan berarti dunia bakal kiamat. 
      Kini Genk Anak STMJ itu jarang kumpul-kumpul dan nongkrong bersama lagi, bagaimana tidak. Si Jaka lagi patah hati karena cintanya ditolak oleh Elish, sedang Benny lagi galau tingkat Dewa memikirkan jurus jitu sambil mengevaluasi letak kegagalan si Jaka yang tidak mampu meluluhkan hati Elish. Jiko sibuk ber-urusan dengan pacarnya sendiri..terus bagaimana dengan Donny??? 
      Donny juga lagi gundah-gulana memikirkan nasibnya, bukan karena dia jomblo dan bukan karena memikirkan nasib sahabatnya yang rada apes itu, tetapi memikirkan keputusan dan langkah yang akan dia ambil. Sebelum ditembak oleh Jaka, sebenarnya Elish telah menyatakan cintanya pada Donny lewat puisi cinta by-inbox pada facebook, dan hingga kini Donny pun belum memberikan keputusan. Di Sisi lain ketika libur semester besok, pihak keluarga Donny berencana akan melakukan pertunangan antara Donny dengan gadis sepermainan Donny saat masih kecil dulu yang kini juga tengah kuliah bidang keperawatan., namun Donny belum memberikan keputusan setuju atau tidak kepada kedua opsi hidupnya itu. Semuanya tergantung Donny dan tentunya takdir dari yang maha kuasa, yang jelas biar cintalah yang akan berbicara... 

*By Mukhlis 
(Ketua Divisi Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat Priode 2011-2012)

Senin, 30 April 2012

Penerbitan di Indonesia Part I

KHAZANAH PENERBITAN BUKU DI INDONESIA
BAGIAN I
Oleh : Siti Nurkamila*

Penerbit atau penerbitan adalah industri yang berkonsentrasi memperbanyak sebuah literature dan informasi atau sebuah aktivitas membuat informasi yang dapat dinikmati oleh publik.[1] Dalam perkembangannya penerbit buku memiliki segmen pasar tersendiri. ada buku umum, buku-buku pelajaran, maupun buku-buku agama. Misalnya buku islami, bersifat rohani, dan sebagainya.
Saat ini penerbit buku islami sedang booming di tengah masyarakat, dalam arti kata banyak yang mendirikan penerbit buku islami karena pangsa pasar yang masih sangat terbuka lebar. Hal ini terbukti dengan boomingnya buku-buku islami yang dapat dilihat pada pameran “Islamic Book Fair” yang begitu padat dan tentunya banyak penerbit yang menangguk untung. Beberapa penerbit buku Islami di Indonesia yang sudah cukup besar di antaranya: Mizan, Gema Insani Press (GIP), Pustaka Al-Kautsar.
Yang perlu dipahami saat ini adalah, sebenarnya apa itu penerbit islam? Penerbit Islam adalah penerbit yang memang benar-benar punya visi dan misi untuk menyebarluaskan nilai-nilai Islam lewat buku, bukan sekedar menerbitkan buku Islam karena alasan bisnis.[2] Melihat pengertian tersebut dapat dipahami bahwa alasan mereka dapat dikatakan syiar atau dakwah islam yang didaulatkan melalui buku-buku Islami tersebut. Akan tetapi apakah benar yang ada di masyarakat saat ini mereka benar-benar pure berpegang teguh pada prinsip dan visi misi mereka? Menurut penulis, dalam realitanya tidak demikian. Sempat sesekali penulis berkeinginan mencari buku-buku umum, akan tetapi yang ada pada waktu itu Islamic book fair, yang tentunya dalam mainset kita bahwa itu adalah pameran buku-buku yang semuanya bernuansa Islami. Ternyata di lapangan tidak demikian, penulis cukup aktif mengunjungi setiap ada pameran buku umum maupun Islami. Dari pameran tersebut justru sekarang menjadi tumpang tindih, banyak penerbit-penerbit Islam yang ternyata menerbitkan buku-buku umum. Lalu, apa bedanya dengan penerbit-penerbit umum? Yang selama ini kita ketahui bahwa penerbit-penerbit umum mungkin jauh lebih dikenal masyarakat terlebih dahulu. Akan tetapi konsep demikian tidak berlaku untuk saat ini. Terlihat bahwa boomingnya penerbit-penerbit Islam yang karya-karya nya pun tidak kalah bagusnya dengan terbitan umum, penerbit Islam pun kini merambah karya-karya umum yang ditarik ke dalam dunia Islam. Tetapi semakin banyak diminati masyarakat, semakin booming di masyarakat, label penerbit “Islam” pun kini menjadi “the big question is?
Dari pemaparan tersebut akan terjadi kerancuan label. Terkesan aneh dan lucu, yang mana penerbit-penerbit yang tidak dikenal “Islam” terhalang etika untuk menjual buku-buku umum, sementara penerbit-penerbit yang selama ini mempunyai nuansa Islam bebas menjual buku-buku umum yang nantinya ketika pameran buku-buku umum pun juga dijual kembali. Tidak menutup kemungkinan bahwa hal ini juga dilakukan oleh penerbit umum. Saat ini, penerbit umum juga didapati menerbitkan buku bernuansa Islam. Melihat kondisi demikian menunjukkan bahwa ada kesenjangan antara penerbitan Islam dan penerbit umum. Untuk itu perlu kiranya kita kaji lebih lanjut bagaimana sejatinya perjalanan para penerbit bergerilya dalam kancah perbukuan di Indonesia.


*Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
[1] Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Penerbit diakses pada tanggal 20 Januari pukul2:53 WIB.

Kamis, 12 April 2012

HOME LIBRARY : Perlu nggak sich…?


Segala hal kecil yang menjadi karakter seseorang, umumnya dimulai dari rumah. Jika ditelusuri, segala kebiasaan aneh, gokil, lebay/alay, atau ajaib sekalipun umumnya berakar dari rumah, begitu juga dengan kebiasaan atau minat akan membaca pada tiap manusia. Kegemaran membaca sendiri sebagai bagian dari proses menambah intelektualitas dan sudah terbukti kebenarannya. Berkaca dari pengalaman berbagai tokoh ahli maupun cendekiawan yang terkenal akan prestasi dan kemampuan akademik mereka, sebagian besar pengetahuan yang mereka dapatkan dari buku yang mereka koleksi atau sumber bacaan lain yang telah mereka baca.
Sebagai makhluk tuhan yang berkecimpung dalam dunia akademik, tentu memiliki kebiasaan yang berbeda-beda, termasuk kecintaan terhadap buku sebagai wadah khasanah pemikiran anak bangsa yang perlu dilestarikan keberadaannya. Tentu saja dari berbagai tuntutan-tuntutan akademik tersebut yang mengharuskannya untuk memiliki berbagai koleksi buku sebagai bahan referensi kuliah. Wajar saja jika Cicero, seorang orator dan penulis prosa terkenal di abad 43 SM. Mengemukakan bahwa “A room without books is like a body without a soul”. Rumah seseorang yang gemar membaca buku setidaknya pasti memiliki suatu tempat yang dikhususkan untuk menyimpan buku, entah itu lemari, meja belajar, meja kecil atau bahkan ruangan yang memang diperuntuhkan sebagai perpustakaan rumah alias home library.
Sebagain besar dari kita sendiri pun bertanya-tanya, home library itu penting tidak dan mengapa harus disertakan dalam hidup kita, menurut Jatinegara (2009:8) bahwa beberapa alasan perlunya memiliki home library  adalah sebagai bearikut :
1.    sebagai ruang penyimpanan (storage) agar koleksi tersebut dapat tertata rapi
2.    memperindah ruangan dari sisi interior
3.    menumbuhkan minat baca bagi penghuni/pemiliknya
4.    sumber referensi bagi keluarga
5.    menjadi tempat alternatif untuk menunjang pekerjaan
6.    sebagai tempat/pusat informasi jangka panjang
7.    sebagai media pembelajaran yang praktis
    Oleh sebab itu, menciptakan home library, tidak hanya membuat koleksi tersimpan dengan baik dan rapi, tapi lebih dari itu dapat meningkatkan minat baca. Begitu juga dengan adanya home library, diharapkan dapat membuat kita semakin menghargai buku dan menunaikan hak-haknya, serta keberadaanya (home library ) dapat memperindah ruangan (rumah) dengan cara yang elegan dan masih banyak lagi kelebihan yang lainnya.
    Merasa tertarik untuk mengetahui lebih lanjut seputar home library lebih lanjut? Jangan khawatir, masih ada part-part berikutnya yang akan kami bahas, tunggu tanggal mainnya  ya..

Oleh: Mukhlis
        *Demisioner ALUS.

Selasa, 20 Desember 2011

Bincang-Bincang Seni

BBY (Bentara Budaya Yogyakarta)

Merayap Waktu
lagu puisi Untung Basuki

Merayap waktu menelan bumi
Merobek mulut dikejar janji
Merentang tangan yang tak pasti
Menjadi lambat menuju mati
Waktu begitu segeralah Beranjak pergi, segeralah
Beranjak pergi
Bendera alam kehidupan
Berkibar siang malam
=1978=

Yogya (16/12/2011) acara malam bincang-bincang di Bentara Budaya “KOMPAS” Yogyakarta ini yang mengambil tema salah satu karya lagu puisi berjudul “Merayap Waktu” milik Untung Basuki.

Untung Basuki merupakan seniman senior yang bias dikatakan legendaris jug bagi kalangan seniman, baik jogja maupun sekitar jawa. Lelaki paruh baya yang lahir pada tahun 1949 ini sungguh memang melekatkan dirinya pada duni seni, dulu dia merupakan kawakan bidang seni rupa, lalu beralih ke seni teater,, dan akhirnya kandas pada seni music berupa lagu puisi. Lagu puisi ini merupakan suatu puisi yang dibuat lagu olehnya, diaransemen sebaik mungkin dengan penuh penghayatan. Performanya yang mampu membawa diri para penontonnya serta diiringi indahnya suara hujan yang membuat suasana semakin syahdu…

Lagu puisi adalah lagu yang dicipta berdasar puisi. Puisi yang digubah menjadi lagu. Dengan aturan tidak mengubah, baik mengurangi, menambah, ataupun mengganti kata. Dan tidak mengenal genre musik –apakah  musik rock, pop, dangdut, jazz, balada, country, ataupun blues. Karena lagu puisi tercipta atas dasar kemauan puisi bukan kemauan musik.”
Untung Basuki - Yogyakarta, Jumat 16 Desember 2011

Pada bincang-bincang malam itu, lagu-lagu yang dilantunkan antara lain Merayap Waktu sekaligus sebagai tema dan pembuka acara ini, lepas-lepas, ingin ku gambar, jiwa yang resah, bunga-bunga,

Pak Dhe Untung (panggilan akrabnya) selain sebagai seniman juga telah mengikuti sanggar bambu sejak dia muda hingga saat ini, Menjadi Anggota Sanggar Bambu (sejak era tahun 1970-an), Menjadi anggota Bengkel Teater (sejak tahun 1970-sekarang) dan ikut di sebagian besar pentas-pentasnya, baik di negeri sendiri maupun di luar negeri. .Selain itu dia Melatih teater dan mengkursus seni lukis dan musik di Samarinda (tahun 1980-an), Kuala Lumpur atas undangan Gapena (Gabungan Penulis Nasional) Malaysia, mengubah dan menyanyikan puisi Merapi dan Kuda Kasongan  Karya Prof. Dr. Siti Zaenon Ismail (2004).  Sekarang, aktif melatih teater, di SMA St. Michael, Warak-Sleman, SMA Santa Maria, Yogyakarta, dan Universitas Duta Wacana, Yogyakarta. Juga aktif mencipta lagu-lagu puisi.

Dari sekian tahun Pak Dhe Untung sapaan akrapnya, telah menghasilkan banyak karya-karya spektakuler. Karya-karya lagu puisi yang berhasil diciptakannya adalah Lepas-Lepas (1972), Gadis Manis (1972), bayi Mati (1973), Bunga-Bunga (1973), Kususuri Sungai (1973), Kuterjun dan Melayang (1973), Ingin ku Gambar (1973), Hutan Pinus (1974), harimau II (1975), Langkahku Menuju Ke mana (1976), Merayap Waktu (1975), Sinila (1983), Mahakam I (1980), Bulan Tua (1980), Saudara-Saudaraku (1980), Maju Perang (1980), Lagu untuk Helga (1981), Elegi (1982), Malingkar (1986), Iqro’ (1986), Sajak Sebatang Lisong (1970), On The Hill (1990), Nyanyian Subur (1990), Lagu untuk Prajurit (1990), Jiwa yang Resah (1990), Samudera Puisi (1990). Wanagama (1993), Terapi Kasih (1993), Tanah (1994), Telatah Jogja (1995), Tepian Berantas (2000), Kemerdekaan Aqua dan Coca Cola (2000), Merapi (2004), Kuda Kasongan (2004), Tinta Terakhir (2006), Bila di langit Kelam Terdengar Suara Berdentang (2006), Apa (2006), Sorobayan (2006), Kerinduan (2006), Pagi Hari (2006), Rembulan dan Matahari (2006), Berkalung Angan (2008), Yin yang (2010), Ramalane Pasar Kembang (2011), serta masih banyak lagu puisi yang belum atau tidak didokumentasikan oleh Untung Basuki.

Kegiatan Negative Itu Akan  Menuju Irama Kematian
Dan
Kegiatan Positif Itu Akan Menuju Irama Kehipan”

* Misbahul Munir adalah Ketua Umum ALUS periode 2011-2012 
          Afif Nur Aziz 
*Afif adalah anggota Divisi Pers

Kamis, 08 Desember 2011

Komik dan Majalah Bergambar Memberikan Pengetahuan Positif pada Anak-anak

Kegiatan membaca adalah salah satu faktor penentu kecerdasan seseorang. Dengan rajin membaca, seseorang akan memperoleh ilmu, wawasan ataupun pengetahuan, sehingga dirinya dapat mengembangkan potensi ke arah yang positif. Seperti kata pepatah ilmu adalah jendela dunia. Maka tanamkanlah sejak dini membaca buku setiap hari, setiap waktu dan setiap tempat dimanapun kita berada, karena sangat penting bagi semua orang khususnya anak-anak dalam masa pertumbuhan untuk membaca.

Tapi kebanyakan anak-anak sekarang lebih cenderung suka untuk membaca buku komik atau majalah bergambar lainnya, dari pada membaca buku pelajaran. Sehingga banyak orang tua ataupun guru yang mengeluh karena kebiasaan dan perilaku mereka. Tidak sedikit dari mereka yang nilai ujiannya menurun ataupun jelek. Karena malasnya membaca bukku pelajaran yang tebalnya 2cm bahkan ada pula yang tebal buku sampai 4-5 cm. Anak-anak pasti malas ataupun tidak suka membaca buku yang tebal-tebal dan isinya pun juga pelajaran semua.

Anak-anak juga perlu waktu untuk membaca buku setebal itu, menurut saya anak-anak juga harus ada waktu untuk bermain, karena masa anak-anak lazimnya di isi dengan bermain, yang harus dilakukan kurang lebih 40% perhari. Karena di dalam baermain akan membentuk kepekaan, jiwa sosial, perkawanan dll dengan sendirinya.

Kalau menurut saya pribadi membaca komik ataupun sejenisnya tidak salah atau tidak buruk, karena didalam komik ataupun majalah terdapat pengetahuan dan ilmu, bahkan anak-anak bisa berimajinasi dengan keinginannya atau kemauannya sendiri. Imajinasi sangat penting bagi anak-anak, apalagi dalam massa pertumbuhan. Tapi kita sebagai orang dewasa ataupun orangtua juga harus bisa mendampingi ataupun memilih bahan bacaan yang bagus, jangan sampai kita salah memberikan bahan bacaan untuk anak-anak. Hendaknya anak-anak di berikan buku bacaan yang ringan (bergambar) tapi isinya tentang pengetahuan yang bermanfaat. Seperti komik ataupun majalah mickey mouse, naruto, dragon ball, cerita nabi-nabi, galaxy luar angkasa, penemu-penemu benda bersejarah, cerita pahlawan, flora dan fauna dll.

Dengan seringnya atau banyaknya membaca komik maupun majalalah akan membentuk atau membuat anak-anak menjadi berani bercerita tentang sejarah penemuan, sejarah nabi-nabi, bentuk atau kondisi fisik dari benda maupun yang lainnya dengan sangat percaya diri, dan mengambil banyak hikmah dari membaca komik dan majalah bergambar.

Komik dan majalah bergambar benar-benar mampu meningkatkan minat baca anak-anak. Tingginya minat membaca dan kebiasaan membaca akan mendorong tumbuhnya budaya membaca. Orangtua, guru maupun orang sekitar kita memiliki peran yang sangat penting dalam upaya menumbuhkan minat baca dan membangun budaya baca dikalangan anak-anak.

Harapan saya pribadi, kedepannya semua orang bisa sadar akan pentingnya membaca, membaca tidak harus yang berat dalam artian seperti sosiologi, ekonomi, argonomi dll, tetapi buku komik atau majalah pun termasuk salah satu sumber pengetahuan yang sangat besar bagi semua kalangan terutama anak-anak. Maka mulai dari sekarang dibiasakanlah membaca buku atau bacaan lain setiap hari minimal 2 jam/hari

Oleh: Herlambang Rahma Dhany
*Herlambang adalah Sekretaris Divisi pengembangan Profesi

Rabu, 07 Desember 2011

Nasib Buku (Koleksi) Lama di Perpustakaan

Jika kita berbicara tentang koleksi, tentu berbicara tentang pengembangannya dan penambahan koleksi itu sendiri, memang ridak bisa dilepaskan dari hal tersebut jika kita berbicara tentang koleksi. Orang yang awam apa lagi, jika berbicara tentang koleksi (disini diartikan buku) diperpustakan, pasti mintanya koleksi yang baru, up to date dll. Jangankan orang awam, orang yang sudah memahami perpustakaan pun selalu berbicara tentang penambahan koleksi di perpustakaan supaya perpustakaan tersebut up to date alias “gaul”. Namun seringkah kita berpikir jika koleksi baru it uterus menerus ditambah dan koleksi yang lama masih tetap ada akan menjadikan perpustakaan menjadi gudang buku bukan lagi perpustakaan? Jangankan penggunjung, pustakawan pun akan malas di perpustakaan jika perpustakaan menjadi gudang buku. Yang perlu digaris bawahi gudang buku disini adalah koleksi yang menumpuk dan tidak mendapat tempat sehingga mengganggu knyamanan mata dalam memamndang. Ibaratnya jika gelas diisi air terus akan tumpah airnya. Apalagi perpustakan, dimana buku baru setiap tahun ada dan buku lama masih ada, hal ini benar-benar terjadi disebuah perpustakaan yang dimana selalu menambah buku baru namun tidak memikirkan buku yang lama.

Lantas bagaimana mengatasi hal tersebut? Apakah semua buku yang lama dikeluarkan dari perpustakaan? Atau menhibahkan buku? Atau yang paling ekstrim membuangnya? (yang terakhir jangan diseriusin ya?). Tentu mengeluarkan buku adalah cara yang terbaik dan tepat mengatasi masalah diatas. Namun pertanyaanya apakah semua buku lama tidak berguna? Tentu pustakawan akan pusing lagi jika dihadapkan dengan pertanyan demikian, apa lagi yang tidak memiliki basic perpustakaan yang kuat seperti yang terjadi di hamper semua perpustakan sekolah. Tentu ada solusi mengenai hal tersebut, yaitu memilah dan menggudangkan. Penulis memiliki opini tentang ruang penandonan dan gudang yang khusus untuk perpustakaan terlebih perpustakaan sekolah. Jadi intinya buku koleksi lama tersebut setelah dipilah dan dipilih dimasukkan ke gudang perpustakaan dan ruag yang ditinggalkan buku lama tadi bisa di isi buku baru. Ini akan menjadi solusi tepat untuk masalah kelebihan buku diperpustakaan. Dan jika memang buku tersebut dirasa benar-benar tidak dipergunakan lagi bisa dihibahkan. Dan kebijakanpenggudangan ini haruslah dilakukan dengan perhitungan tepat dan berkala untuk menghindari terbuangnya buku yang masih dipakai.

Mungkin itu saja yang penulis opinikan tentang nasib buku lama diperpustakan. Dan tentu saja banyak kekurangannya, terlebih lagi bagi pustakawan yang memiliki basic perpustakaan yang kuat, namun sekali lagi kita harus mengingat bahwa tidak semua pustakawan memiliki basic perpustakaan yang kuat jadi semoga opini ini dapat membantu kawan-kawan pustkawan semua dan menjadi pencerahan bagi semua.

Oleh: Fauzan Dwi Kurniawan
*Fauzan adalah mantan Ketua Umum ALUS

Selintas Pustakawan Perpustakaan Pemustaka

 

Kadang ketika mendengar pertanyaan seperti ; apa sih sebenarnya perpustakaan (library) itu? Jawaban yang paling sederhana sering diutarakan beberapa orang yang saya temui adalah gudang buku, tempat membaca, taman bacaan lah. Namun ada pihak yang lebih maju mengatakan perpustakaan itu adalah institusi yang memfasilitasi terjadinya interaksi ilmu pengetahuan dan dikelola dengan sistem yang baku. Nah kalau pustakawan (librarian) itu siapa sih? Pustakawan sebenarnya merujuk pada profesi perorangan atau kelompok dengan karya di bidang dokumentasi, perpustakaan, dan informasi. Bertanggungjawab untuk pemeliharaan bahan pustaka dan content di dalamnya, termasuk pemilihan, pengolahan, dan organisasi serta penyediaan informasi, instruksi, dan jasa peminjaman untuk memenuhi kebutuhan pemustaka. Kalau pemustaka (user/patron) siapa lagi tuh? Pemustaka tersebut melingkupi siapa saja yang menggunakan sumber daya dan jasa koleksi perpustakaan, tidak harus seseorang yang meminjam dan atau telah tercatat keaanggotaannya pada perpustakaan.

Selalu menarik tentang hal-hal yang sering dipertanyakan di atas, walaupun kadang pada keseharian kita begitu sering berhadapan dengan hal-hal tersebut. Berikut contoh ilustrasi yang terjadi di lapangan. Ketika seorang pemustaka berinteraksi dengan pustakawan pada perpustakaan umum di salah satu kota di Indonesia.

Pemustaka : “Bang Pustakawan buku yang saya cari kok ngga’ ketemu-ketemu di rak yah padahal katalog online (OPAC/Online Public Access Catalog) nunjukinnya di sana.

Bang Pustakawan pun tersenyum, lalu balik bertanya.

Pustakawan : “Maaf boleh tahu nomor klasifikasinya berapa?”

Pemustaka : “Wah nomor apaan tuh, Ane ngga’ perhatiin. Tapi judul bukunya Fungsi Pengadilan pada Zaman Mesir Kuno, nama pengarangnya Dr. Datuk Belalang, M.Si. Bang!”

Pustakawan : “Kalau tidak salah itu nomor klasifikasi 347.010 932 dengan call number BEL 347.010 932 f  adanya di rak kategori ilmu-ilmu sosial, mari Saya antar ke sana.

Bang Pustakawan mengantar pemustaka tersebut menuju tempat rak yang dimaksud, tidak beberapa lama buku yang dimaksud ditemukan. Ternyata pemustaka tersebut hanya melihat judul dan penulisnya tidak memerhatikan nomor klasifikasi koleksi yang dicari.

Pemustaka : “Semua koleksi perpustakaan itu kok pake nomor-nomor segala kayak nomor kendaraan aje.

Pustakawan : “Salah satu tujuan utama sebuah perpustakaan yaitu mengusahakan agar semua pemustaka dapat secara mudah dan langsung memeroleh koleksi yang dicari, nah nomor klasifikasi salah satu di antara alat-alat yang diciptakan untuk hal tersebut, selain katalog online tadi.”

Pemustaka : “Buat kayak gitu ada aturannya ngga’ Bang, kayak rumus gitu?”

Pustakawan : “Ada, yang sering digunakan di Indonesia adalah sistem DDC (Dewey Decimal Classification), UDC (Universal Decimal Classification), Klasifikasi Khusus Islam, dan sebagaingya tentu disesuaikan dengan kemudahan bagi perpustkaan.”

Pemustaka : “Ane kebetulan lagi ikut lomba nulis karya ilmiah tentang sistem pengadilan kuno nih Bang, bisa ngasi tahu nomor klasifikasi Kamus Sistem Tulisan dan Fonologi bahasa Yunani Klasik ngga’ Bang?”

Pustakawan : “Itu termasuk nomor klasifikasi 481.”

Pemustaka : “Wah, abang tahu juga ye, entar Ane cari sendiri deh tapi kalo kesulitan dibantu ye Bang he..he..

Pustakawan : “Dengan senang hati, oya kami juga menyediakan majalah dan jurna-jurnal sejarah, bisa pilih yang ada di online database atau yang jenis tercetak. Untuk koleksi visual di ruang audio visual terdapat film-film dokumenter sejarah seperti Persia Law 300 BC, the Alexandria Judge, Al-Ma’mun’s Law in Baghdad mungkin bisa membantu?”

Pemustaka : “Gratis kan Bang?”

Putakawan : “Iya, tentu gratis karena diperuntukkan bagi setiap pemustaka.”

Pemustaka : “Oya Bang kalo kerja di perpustakaan itu mesti sekolah tinggi atau siapa aje boleh?”

Pustakawan : “Tentunya dengan sertifikasi khusus seperti profesi lain pada umumnya, kalau kuliah ada jurusan khusus Ilmu Perpustakaan dan Informasi atau bisa juga seseorang telah mengikuti pendidikan kepustakawanan sesuai dengan standar waktu yang telah ditentukan.”

Pemustaka : “Oh gitu ye Bang, wah Ane kira siapa aje boleh dan mudah aje kerjanya. Ternyata hmmm....?”

Bang pustakawan pun tersenyum, lalu mempersilahkan pemustaka tersebut melanjutkan pencarian koleksi-koleksi yang dibutuhkan.

Dari ilustrasi di atas, hendaknya pemustaka sebelum menggunakan perpustakaan telah mendapatkan atau mengikuti program pendidikan pemakai (user education) yang di bimbing langsung oleh pustakawan. Setiap perpustakaan memiliki kebijakan tersendiri mengenai waktu dan sistem tersebut, namun pada dasarnya semua perpustakaan sepakat program tersebut bertujuan dalam mengenalkan perpustakaan lebih dalam pada setiap pemustaka. Sehingga dalam mengakses setiap informasi pada koleksi-koleksi perpustakaan tidak terhambat serius dan lebih efektif. “Mari agendakan perpustakaan menjadi salah satu tempat yang anda kunjungi hari ini. Salam pustaka salam cerdas.”


*Mantan Ketua Divisi Pers periode 2009-2010

Senin, 05 Desember 2011

Tips Menulis Resensi



Sering denger dan membaca resensi buku atau film??? tentunya pernah dunk, hari gini gak suka baca ???? bakalan jaduL dech jadi orang..heee.... baca kan gak kudu buku- buku yang berat banget bikin kepala cenat- cenut, bisa baca artikel di majalah, surat kabar, media online, bahkan baca pikiran orang..(huehue melatih six sense....). so niy aku punya goresan dikit mengenai resensi. Sebenarnya niy tulisan copy paste, tapi ada kesimpulan dari berbagai sumber yang aku baca, jadi bukan plagiat atau mencuri pengetahuan orang lain, lagian pengetahuan itu kan gak ada yang murni menurutku..hehm...ngomong apa sich...jadi ngelantur niy...dah...mulai yaak:......
>> Apakah itu resensi????
      Resensi termasuk salah satu tulisan opini di media massa. Jika dilihat dari segi isinya, resensi berbeda dengan tulisan lain di media massa, misalnya artikel. Resensi mengulas satu objek, yaitu hasil karya jadi dari seseorang atau sekelompok orang, (Sudaryanto,2008:8-9). Kata resensi berasal dari bahasa latin revidere berarti kembali, dan dalam bahasa inggris disebut review (Soewandi:1997:ix). Oleh karena itu resensi dapat dikatakan sebuah tulisan yang berisi tentang pendapat pembaca mengenai kelebihan dan kekurangan sebuah karya orang lain, berupa buku, film, dan lain sebagainya.


>> Apa tujuan resensi??
      Ada bebrapa tujuan seseorang meresensi buku, diantaranya:
  1. Untuk menarik minat baca. Kenapa bisa begitu? ya iyalah bisa soalnya dengan  adanya resensi yang dibaca seseorang mengenai buku tertentu, misalnya novel 3 menara (hehm..sebut merk), orang lain akan tertarik untuk membaca novel tersebut yang telah dikupas abis dalam resensi, mengenai isi novel, kelebihan, kekurangan, informasi bibliografisnya, bahkan harga.
  2. Resensi bisa dijadikan panduan untuk membeli buku. Dalam hal ini pembaca yang akan membeli buku mendapatkan informasi lengkap tentang sebuah buku, so dengan adanya resensi buku dapat menghemat waktu karena tidak harus membaca lebih dalam tentang buku yang akan dibelinya, cukup dengan membaca resensinya.
  3. Resensi dapat dijadikan pedoman untuk menilai suatu buku apakah layak dibaca atau tidak.
  4. Resensi sebagai promosi buku. Dengan adanya resensi maka penerbit buku bisa melakukan promosi kepada publik.


>> Unsur- Unsur Resensi Buku
Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam meresensi buku, antara lain:
  1. Identitas buku. Dalam dunia perpustakaan hal itu disebut data bibliografi, yang meliputi:Judul buku, pengarang, penerbit, kota terbit, tahun terbit, cetakan terbitan, tebal buku, ukuran buku, dan bisa ditambahkan cover buku.
  2. judul resensi, yaitu inti dari tulisan peresensi.
  3. gambaran umum isi buku.
  4. hasil analisis penulis, meliputi kekurangan, kelebihan, dan saran untuk pembaca.
  5. ciri bahasa yang digunakan penulis tergantung buku yang diresensi, apabila akademik ya gunakanlah bahasa akademis, atau ilmiah, atau reflektif.
  6. Manfaat yang akan diperoleh pembaca apabila membaca buku yang diresensinya. (Sudaryanto,2008:11-12)
>>So, Apa manfaatnya meresensi buku?
  1. Dapat mempublikasikan karya tulis kita di media massa.
  2. Mendapat buku dari penerbit, (seneng bukan?
  3. mendapat honor dari resensi yang berhasil dimuat di media mass
  4. melatih kita untuk menuangkan ide dan meningkatkan minat baca serta hobi

    Oleh: Sarofah
    *Sarofah Adalah Sekretaris Umum ALUS

Sabtu, 03 Desember 2011

PRESERVASI KOLEKSI TERCETAK DAN DIGITAL

A.      Pendahuluan
Sepanjang sejarah manusia, perpustakaan bertindak selaku penyimpanan khasanah hasil pikiran manusia. Hasil pikiran ini dapat dituangkan dalam bentuk cetak maupun non cetak (digital). dengan dituangkannya pikiran-pikiran tersebut dalam berbagai bentuk tersebut, maka akan ada kegiatan yang harus bisa merawat, menyimpan, dan menyebarkan semua itu secara terus menerus agar informasi yang ada dalam pikiran manusia tersebut bisa selalu diketahui oleh setiap orang.
  Dalam berbagai literatur dapat ditemukan istilah preservation, conservation, dan restoration. Preservation  atau pelestarian mencakup semua aspek usaha melestarikan bahan pustaka dan arsip, termasuk didalamnya kebijakan pengolahan, keuangan, sumberdaya manusia, metode dan teknik penyimpanannya. Conservation atau pengawetan terbatas pada kebijakan serta cara khusus dalam melindungi bahan pustaka dan arsip untuk kelestarian arsip tersebut. Restoration atau pemugaran mengacu pada pertimbangan serta cara yang digunakan untuk memperbaiki bahan pustaka dan arsip yang rusak (Sulistyo-Basuki, 1991:271).

B.       Pembahasan
1.        Pengertian Pelestarian
Pelestarian (preservation) adalah sistem pengolahan dan perlindungan pada bahan pustaka, dan atau tugas maupun pekerjaan untuk memperbaiki, memugar, melindungi, dan merawat bahan pustaka, dokumentasi, arsip maupun bahan informasi serta bangunan perpustakaan (Lasa, 2009:233-234).
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:853), pelestarian adalah pengawetan (sumberdaya alam, budaya, dsb) agar terjamin kehidupannya sepanjang masa. Hal ini diperkuat oleh pendapat Wendy Smith dalam Purwono (2009:2.17) yang mengatakan pelestarian atau preservasi adalah semua kegiatan yang bertujuan memperpanjang umur bahan pustaka dan informasi yang ada didalamnya.
Menurut International Federation of Library Association (IFLA) memberi batasan definisi pelestarian (Sudarsono, 2006:314).
1.Pelestarian (Preservation). Mencakup semua aspek usaha melestarikan   bahan pustaka dan arsip. Termasuk didalamnya: kebijakan pengelolaan,  keuangan, ketenagaan, metode dan teknik, serta penyimpanan.
2.Pengawetan (Conservation). Membatasi pada kebijakan dan khusus dalam melindungi bahan pustaka dan arsip untuk kelestarian koleksi tersebut.
3.Perbaikan (Restoration). Menunjuk pada pertimbangan dan cara yang digunakan untuk memperbaiki bahan pustaka dan arsip yang rusak.
  Dari penjabaran beberapa pengertian tentang preservasi, konservasi, dan restorasi dapat dikatakan bahwa konservasi dan restorasi adalah bagian dari kegiatan preservasi itu sendiri, akan tetapi kegiatan preservasi tidak dimasukkan ke dalam istilah konservasi dan restorasi karena adanya batasan dari masing-masing istilah tersebut.
Sedangkan pelestarian didefinisikan sebagai seluruh kegiatan yang dilakukan oleh setiap lembaga atau institusi dalam mempertahankan semua koleksi itu dapat bertahan lama dan menyelamatkan informasi yang terkandung didalam koleksi tersebut agar tetap bisa diakses oleh pemustaka.

2.        Unsur, Tujuan, dan Fungsi Pelestarian
Menurut Martoatmodjo (1993:7), berbagai unsur penting yang perlu diperhatikan dalam pelestarian bahan pustaka adalah:
a)Manajemen: Siapa yang bertanggung jawab dalam kegiatan ini dan bagaimana prosedur pelestarian yang akan diikuti.
b)Tenaga yang merawat bahan pustaka dengan keahlian yang mereka miliki.
c)Laboratorium, ruang pelestarian beserta peralatannya seperti alat penjilidan, lem, alat laminasi, alat untuk fumigasi, pembersih debu dan sebagainya.
d)Dana untuk kegiatan yang selalu dimonitor dengan baik, agar kegiatan pelestariantidak mengalami gangguan.
Sedangkan tujuan pelestarian bahan pustaka menurut Martoatmodjo (1993:5), dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.Menyelamatkan nilai informasi dokmen.
2.Menyelamatkan fisik dokumen.
3.Mengatasi kendala kekurangan ruang.
4.Mempercepat perolehan informasi: dokumen yang tersimpan dalam CD (Compact Disc) sangat mudah untuk diakses, baik pada jarak dekat maupun jarak jauh.
Sementara itu, menurut Sulistyo-basuki, (1993:271), tujuan pelestarian bahan pustaka dan arsip adalah untuk melestarikan kandungan informasi bahan pustaka dan arsip dengan alih bentuk menggunakan media lain atau melestarikan bentuk aslinya selengkap mungkin untuk dapat digunakan secara optimal.
Sedangkan fungsi pelestarian ialah menjaga agar koleksi perpustakaan tidak rusak karena gangguan manusia,  dan serangan serangga atau jamur yang merajalela pada ruangan yang lembab. Menurut Martoatmodjo (1993:6), jika disimpulkan maka pelestarian memiliki beberapa fungsi antara lain adalah:
a.Fungsi melindungi, yaitu melindungi bahan pustaka dari serangan serangga, manusia, jamur, panas matahari, air, dan sebagainya.
b.Fungsi pengawetan, yaitu merawat bahan pustaka agar tetap awet dan tahan lama untuk digunakan oleh pengguna.
c.Fungsi kesehatan, yaitu dengan pelestarian yang baik bahan pustaka menjadi bersih, bebas dari debu, jamur dan berbagai sumber penyakit, sehingga pemakai ataupun pustakawan terjaga kesehatannya.
d.Fungsi pendidikan, yaitu pemakai perpustakaan dan pustakawan itu sendiri harus belajar bagaimana cara merawat dokumen.
e.Fungsi kesabaran, merawat bahan pustaka ibarat merawat bayi atau orang tua, jadi harus sabar.
f.Fungsi sosial, bahwa pelestarian tidak bias dikerjakan oleh seorang diri. Pustakawan harus mengajak pengguna untuk tetap merawat bahan pustaka.
g.Fungsi ekonomi, yaitu dengan pelestariaan yang baik, bahan pustaka akan lebih awet, keuangan dapat dihemat.
h.Fungsi keindahan, yaitu penataan bahan pustaka yang rapi, perpustakaan dapat menjadi lebih indah sehingga dapat menambah daya tarik pembacanya.

3.        Langkah-langkah Dalam Pelestarian Koleksi
Dalam pelestarian koleksi ada beberapa kegiatan yang bisa kita lakukan agar koleksi tersebut tetap terjaga dengan baik. Untuk koleksi tercetak, langkah langkah seperti yang dikutip dari Lasa (2009:163) sebagai berikut:
1.        Reproduksi
Reproduksi dalam pengertian ini adalah usaha reproduksi bahan pustaka dengan cara fotokopi, pembuatan bentuk mikro, dan pembuatan duplikasinya. Biasanya, bahan pustaka yang perlu direproduksi meliputi koleksi langka, penting, bernilai historis, serta mudah rusak.
2.        Penjilidan
Penjilidan ini dilakukan lantana sampulnya mudah rusak, terlalu tipis, atau terlepas jilidannya.
3.        Laminasi
Penyampulan ini dilakukan dengan cara memberikan pelindung plastik atau bahan lainnya agar bahan pustaka itu tidak sobek dan hancur.
4.        Penyiangan
Penyiangan adalah proses pengeluaran buku dari jajaran koleksi suatu perpustakaan. Pengeluaran ini didasarkan pada pertimbangan bahwa koleksi itu tidak diminati lagi, sudah ada edisi baru, atau bertentangan dengan kebijakan pemerintah dan etika masyarakat.
5.        Fumigasi
Fumigami atau pengasapan bertujuan untuk membunuh jamur maupun serangga yang tumbuh pada bahan kertas. Fumigami dapat dikalsanakan dalam kotak, lemari fumigami, ruang fumigami, ruang penyimpanan arsip, ruang perpustakaan, maupun ruang deposit.
Berbeda dengan pelestarian koleksi tercetak, untuk menunjang pelestarian koleksi digital maka dilakukan startegi-strategi dalam pelaksanaannya. Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, menurut Pendit (2009:102) ada beberapa cara yang bisa dilakukan yaitu :
a.     Refreshing, yaitu men-copy file-file digital dari satu media ke media penyimpanan lain akan tetapi masih dapah satu sejenis.
b.     Migration, yaitu mentranster data digital dari satu konfigurasi hardware/software kebentuk yang lainnya atau dari atu komputer ke generasi komputer yang lebih baru.
c.    Emulation, yaitu penyegaran sistem secara berkala agar dapat terus membaca data digital yang direkam dalam berbagai format dari berbagai versi.
d.   Reformatting, yaitu kegiatan mengubah konfigurasi data digital tanpa mengubah kandungan isi intelektualnya.

C.      Penutup
Dari pembahasan di atas maka ada dua pelestarian yang kita bisa lakukan. Pertama yaitu pelestarian bentuk fisik dokumen yang diselenggarakan dengan pengurangan tingkat keasaman, pembuatan laminasi  dan enkapsulasi, restorasi dokumen dan lainnya. Yang kedua ialah pelestarian nilai informasi dokumen dengan alih bentuk. Informasinya tidak hilang meskipun bentuk kemasannya diubah dari kertas ke bentuk yang dianggap lebih efisien misalnya bentuk mikro dan video disk ataupun dengan cari melakukan alih media. Tujuan keduanya tetaplah sama, yakni selalu berusaha agar koleksi tersebut bisa diakses selama mungkin, serta informasi yang ada di dalamnya tidak hilang.
  

Daftar Pustaka
Depdiknas. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Lasa, H.S. 2007. Manajemen Perpustakaan Sekolah. Yogyakarta: Pinus Book Publisher.
_________. 2009. Kamus Kepustakawanan Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher
Martoatmodjo, Karmidi. 1993. Pelestarian Bahan Pustaka. Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud.
Pendit, Putu Laxman. 2007. Perpustakaan Digital: Perspektif Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia. Jakarta: CV. Sagung Seto.
________. 2008. Perpustakaan Digital dari A Sampai Z. Jakarta: Cita Karyakarsa Mandiri.
_________. 2009. Perpustakaan Digital: Kesinambungan & Dinamika. Jakarta: Cita Karyakarsa Mandiri.
Purwono. 2009. Materi Pokok Dasar-dasar Dokumentasi. Jakarta: Universitas Terbuka.
________. Strategi Teknologi Pelestaria Bahan Pustaka. (artikel). Diberikan pada Program Ilmu Perpustakaan dan Informasi Program S1 Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga pada semester IV tahun 2009.
________. Pelestarian Jangka Panjang dan Aksesibilitas Kandungan Informasi Dengan Teknologi. (artikel). Diberikan pada Program Ilmu Perpustakaan dan Informasi Program S1 Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga pada semester IV tahun 2009.
Sudarsono, B. 2006. Analogi Kepustakawanan Indonesia. Jakarta: Ikatan Pustakawan Indonesia.
Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
__________. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Remaja Rosdakarya.



*Nasirullah adalah mantan sekretaris Divisi Pengembangan Profesi periode 2010-2012